Pelukis Widayat Widayat adalah seorang pelukis yang telah memasuki tingkat bhakti yoga. Beliau adalah sosok pelukis atau senirupawan yang serba-bisa. Karya lukisannya mendapatkan apresiasi yang hangat di kalangan pecinta seni. Namun Widayat tidak hanya melukis di atas kanvas. Berbagai benda di sekelilingnya tidak luput menjadi ajang olah kreasi seninya. Dengan sentuhan seni yang khas ia mengolah benda-benda itu menjadi karya seni. Ia adalah pribadi yang mudah diterima di berbagai kalangan. Karya-karyanya dianggap menjadi satu tonggak penting bagi perkembangan seni lukis di Dalam ciptaan artistiknya Widayat sering dianggap sebagai penganut dekora-magis. Sebuah aliran seni yang menyandarkan pada dekoratifisme. Namun
Dengan museum itu sebenarnya saya ingin melestarikan lukisan-lukisan saya terutama. Selain museum Widayat juga membangun galeri yang menampung karya-karya terbaiknya. Didalam galeri ini terpampang berbagai koleksi seni rupa Widayat dan karya-karya lukisan, keramik, sketsa, patung, dan instalasi. Bagi Widayat museum dan galeri ini tidak dimaknai sekadar monumen, melainkan sebagai tempat catatan sejarah, dokumentasi, dan tempat belajar bagi generasi yang akan datang tentang perjalanan seni rupa Seniman yang mempunyai dua istri dan mendapatkan 11 anak, 23 cucu, dan tiga cicit ini adalah seniman yang religius. Bagi Widayat semua yang telah dicapainya tidak lepas dari kekuasaan Sang Maha Pencipta. Karena penyakit gula yang diidapnya maestro yang telah mengabdikan hidupnya bagi seni rupa Indonesia itu telah pergi menghadap Sang Khalik pada Sabtu 22 Juni 2002 di Jakarta. Dunia seni rupa Indonesia kembali kehilangan salah satu putra telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia internasional. Kalangan seni rupa tidak akan melupakan seorang tokoh yang memelopori aliran seni lukis dekora-magis yang mungkin hanya satu-satunya di dunia ini.*** (Profil Maestro Indonesia) |
Nama : H. Widayat Lahir : Kutoarjo, Jawa Tengah, 2 Maret 1919 Wafat : Jakarta, 22 Juni 2002 Pendidikan : HIS Trenggalek (Jawa Timur) Profesi : Mantri Opnamer atau Juru Ukur di Palembang 1939, Juru Gambar Peta rel kereta api di Palembang, Bergabung dengan dinas Ketentaraan di PMC (Penerangan Militer Chusus) dengan pangkat Letnan Satu, Dosen ASRI Yogyakarta, 1960 |
Kamis, 10 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar